Dunia sekarang semakin kompetitif Demikian juga pada anak-anak. Kompetisi mereka kian tinggi. Tidak hanya di sekolah, melainkan juga ketika mereka masuk dunia kerja. Kondisi ini membuat banyak orangtua merasa khawatir. Mereka pun lantas menyiapkan anak-anak dengan dorongan begitu kuat.
Dorongan kuat ini dilakukan agar anak-anak menjadi sosok yang tangguh dan dapat menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Jadilah kemudian orangtua memasang ekspektasi atau harapan yang demikian tinggi pada anak-anaknya.
Orangtua berharap, lebih tepatnya menargetkan anak mereka untuk mendapat nilai tinggi. Kalau nilai untuk beberapa mata pelajaran kurang dari 90 misalnya, anak akan dicecar, "Kenapa tidak bisa dapat 90 atau 100?" Seolah-olah, nilai 80 adalah sesuatu yang tabu.
Ekspektasi tidak hanya dalam hal nilai akademis. Anak-anak ini juga dimasukkan ke berbagai les atau kursus. Bukan hanya les mata pelajaran, tetapi juga kursus musik dan lain sebagainya.
Menciptakan Tekanan
Menurut Dr. Yvonne Sum dalam Nagle Catholic College, tidak ada yang salah dalam menginginkan hal terbaik bagi anak-anak, demi mencapai potensi tertinggi mereka. Namun, bila tidak hati-hati, Anda bisa menciptakan tekanan berlebihan bagi anak. Jadilah orangtua menerapkan push parenting.
Ditambahkan Adi D. Adinugroho Horstman, Ph.D, para orangtua yang menerapkan push parenting berasumsi bahwa anak-anak tidak akan berhasil dalam kehidupan mereka kelak bila orangtua tidak membantu mendorong mereka sepenuhnya. Caranya, mendorong anak melewati titik limit sebagai tantangan bagi anak agar potensinya terus berkembang dan meningkat.
"Tren pengasuhan push parenting seolah-olah mendapat pembenaran karena tujuannya sangat baik. Demi kebahagiaan dan keberuntungan anak-anak:' lanjut doktor bidang pendidikan khusus lulusan Purdue University, West Lafayette, Indiana, AS, ini.
Positif dan Negatifnya
Bagi anak yang kuat terhadap tekanan, dari sejumlah riset, imbuh Adi, push parenting akan memiliki dampak positif pada etos kerja anak. Mereka akan menjadi pekerja keras, disiplin dalam penyelesaian tugas, dan berorientasi tujuan.
Sebaliknya, pada anak yang tidak kuat, cara pengasuhan ini hanya akan mematikan ambisi dan kemandirian mereka. Juga menyakiti hati anak dan mengganggu pertumbuhan psikologisnya. Jadi, seberapa besar kita perlu mendorong anak? "Kira perlu mencari keseimbangan agar kita dapat menginspirasi anak-anak untuk termotivasi dari dalam dirinya:'jawab Dr.Yvonne.
Timbul Stres
Mengingat setiap anak berbeda, orangtua perlu memperhatikan dan mengamati. Sejumlah anak cenderung untuk maju saat mendapat tantangan sehingga Anda dapat mendorongnya lebih. Sementara anak lain lebih sensitif.
Lalu, kapan tekanan tersebut menjadi terlalu besar atau berlebihan? Saat terjadi "perang" konstan. Saat suasana menjadi tidak menyenangkan lagi. Saat tidak ada gairah dari dalam diri anak. Semua ini menjadi pertanda, sebagai orangtua, Anda mendorong terlalu banyak.
"Tanda lainnya cukup sederhana. Lihat saja, stres yang dialami oleh anak dan atau orangtua:' kata Dr. Yvonne. (iso)
Belum ada tanggapan untuk "Bagaimana Seharusnya Anda Memberi Dukungan Terhadap Anak, Bukan Malah Memberi Tekanan"
Posting Komentar